Nasional

PGSI Terima Gulat Dicoret dari SEA Games 2027, Gusti Randa Berharap Ada Kejuaraan Pengganti

PGSI Terima Gulat Dicoret dari SEA Games 2027, Gusti Randa Berharap Ada Kejuaraan Pengganti

JAKARTA — Pengurus Pusat Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PP. PGSI) menerima keputusan Malaysia tidak mempertandingkan cabang olahraga (cabor) gulat pada SEA Games 2027. Meski demikian, PGSI berharap ada kejuaraan gulat tingkat Asia Tenggara sebagai pengganti agar para atlet tetap memiliki ajang kompetisi dan tolok ukur prestasi.

Sekretaris Jenderal PGSI Gusti Randa mengatakan, pihaknya menghormati keputusan Malaysia sebagai tuan rumah SEA Games 2027. Menurut dia, keputusan tersebut merupakan kewenangan tuan rumah sehingga PGSI tidak akan melayangkan protes.

"Kami dari PGSI hanya ingin menyampaikan bahwa gulat tidak dipertandingkan, ya sudah, kami menerima. Karena itu keputusan NOC Malaysia sebagai tuan rumah. Kami hormati saja," kata Gusti Randa, Jumat (6/11/2026) di Kantor PP PGSI di kawasan Senayan Jakarta.

Gusti menjelaskan, PGSI memahami alasan Malaysia tidak memasukkan gulat dalam daftar cabor yang dipertandingkan. Salah satu pertimbangannya adalah Malaysia tidak memiliki atlet gulat yang dapat diandalkan untuk berkompetisi pada ajang tersebut.

Bahkan, menurut dia, bukan hanya gulat yang tidak dipertandingkan. Sejumlah cabor lain, seperti panjat tebing dan dayung, juga tidak masuk dalam daftar pertandingan SEA Games 2027.

Gusti menilai keputusan tersebut merupakan konsekuensi dari kewenangan tuan rumah dalam menentukan cabor. Karena itu, PGSI memilih menghormati keputusan tersebut meskipun Indonesia berpotensi kehilangan peluang meraih medali.

Ia memperkirakan pencoretan gulat akan berdampak terhadap perolehan medali Indonesia. Sebab, gulat selama ini menjadi salah satu cabor yang menyumbangkan medali bagi Merah Putih di SEA Games.

Gusti mencontohkan, pada SEA Games dua edisi sebelumnya, tim gulat Indonesia mampu menyumbangkan enam medali emas, enam perak, dan dua perunggu. Sementara pada SEA Games edisi terakhir, Indonesia meraih satu emas, lima perak, dan dua perunggu.

"Dampaknya pasti ada pengurangan medali karena jumlah cabor yang dipertandingkan dikurangi oleh Malaysia. Namun, kami menerima konsekuensi logis tersebut," ujarnya.

Meski tidak memprotes keputusan Malaysia, Gusti berharap ada inisiatif dari federasi gulat negara-negara Asia Tenggara untuk menggelar kejuaraan tersendiri pada 2027. Menurut dia, kompetisi tersebut penting agar atlet tetap memiliki kesempatan mengukur kemampuan di tingkat regional.

Ia berharap negara-negara Asia Tenggara dapat bersepakat menggelar turnamen terbuka atau open tournament gulat dengan melibatkan atlet dari kawasan tersebut.

"Kami mengharapkan ada kesepakatan untuk membuat open tournament pada 2027 di level Asia Tenggara. Jadi, meskipun tidak ada SEA Games, atlet tetap memiliki tolok ukur kemampuan di tingkat regional," kata Gusti.

Menurut dia, sebuah kejuaraan tidak semata-mata menjadi tempat mengejar medali. Kompetisi juga berfungsi sebagai tolok ukur perkembangan dan kualitas atlet dalam menghadapi persaingan internasional.

Apalagi, PGSI saat ini menerapkan program pemusatan latihan (TC) berkelanjutan. Para atlet tetap menjalani latihan meskipun tidak ada kejuaraan yang sedang berlangsung. PGSI bahkan mendatangkan pelatih asing untuk meningkatkan kualitas pembinaan.