Mataram (ANTARA) - Sejumlah perempuan terlihat sibuk membentuk adonan temerodok di tengah hiruk pikuk Sakra Pusat, sebuah kecamatan di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Jemari mereka menari-nari membentuk setiap adonan temerodok menjadi bentuk yang serupa meski dikerjakan secara manual.
Di sebuah toko sederhana milik keluarganya, Eka (37 tahun), bersama tiga perempuan lainnya, masih mempertahankan cara tradisional dalam pembuatan jajanan khas Sakra tersebut.
Proses pembuatan temerodok membutuhkan ketelatenan. Setiap adonan yang telah dibentuk harus melalui proses penggorengan dua kali.
Setelah itu, temerodok didiamkan hingga dingin sebelum memasuki proses pemberian gula. Tahapan demi tahapan tetap berjalan di tengah kesibukan toko melayani pembeli yang terus datang silih berganti.
Suasana itu memperlihatkan bagaimana sebuah jajanan tradisional tetap bertahan di tengah kehidupan masyarakat yang terus bergerak. Di saat berbagai pilihan makanan semakin beragam, temerodok masih memiliki tempat tersendiri bagi masyarakat yang mengenalnya.
