Jakarta (ANTARA) - Suara yang tiba-tiba serak, melemah, bahkan hilang sama sekali dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Kondisi ini sering dialami setelah seseorang terlalu banyak berbicara, berteriak, bernyanyi dalam waktu lama, atau ketika sedang mengalami flu dan batuk.
Suara manusia dihasilkan melalui getaran dua pita suara yang berada di dalam laring atau kotak suara. Ketika udara dari paru-paru melewati pita suara, keduanya akan bergetar dan menghasilkan bunyi. Apabila bagian tersebut mengalami peradangan, pembengkakan, atau gangguan fungsi, kualitas suara dapat berubah hingga seseorang kesulitan berbicara.
Dalam dunia medis, kondisi suara serak dikenal sebagai disfonia. Sementara itu, kehilangan kemampuan untuk menghasilkan suara disebut afonia. Keduanya dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari gangguan ringan hingga kondisi kesehatan yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Lantas, apa saja penyebab suara hilang dan bagaimana cara mencegahnya?
Penyebab suara hilang
Kehilangan suara tidak selalu berkaitan dengan penyakit serius. Dalam banyak kasus, kondisi ini terjadi akibat peradangan atau penggunaan pita suara secara berlebihan.
Berikut beberapa penyebab suara hilang yang perlu diketahui.
1. Radang pita suara (Laringitis)
Salah satu penyebab paling umum suara hilang adalah laringitis, yaitu peradangan pada laring atau kotak suara.
Kondisi ini dapat membuat pita suara mengalami pembengkakan sehingga getarannya tidak berlangsung secara normal. Akibatnya, suara terdengar serak, lemah, bahkan menghilang sementara.
Laringitis sering berkaitan dengan infeksi virus, seperti flu dan pilek. Selain itu, paparan iritan dan penggunaan suara secara berlebihan juga dapat memicu peradangan. Umumnya, laringitis akut dapat membaik dengan sendirinya dalam satu hingga dua minggu.
2. Terlalu sering berbicara atau berteriak
Penggunaan suara secara berlebihan dapat memberikan tekanan pada pita suara. Kebiasaan berbicara dalam waktu lama, berteriak, bernyanyi terlalu keras, atau berbicara dengan volume tinggi dapat menyebabkan pita suara mengalami iritasi.
Risikonya lebih besar bagi orang yang menggunakan suara sebagai bagian dari pekerjaan, seperti guru, penyanyi, penyiar, pembawa acara, dan pekerja layanan pelanggan. Jika kebiasaan tersebut terus dilakukan tanpa memberikan waktu istirahat, seseorang dapat mengalami suara serak hingga kehilangan suara sementara.
3. Infeksi saluran pernapasan
Infeksi saluran pernapasan atas, seperti flu, pilek, dan infeksi tenggorokan, juga dapat memengaruhi kualitas suara.
Ketika tubuh mengalami infeksi, jaringan di sekitar tenggorokan dan laring dapat mengalami peradangan. Kondisi tersebut membuat pita suara membengkak dan menghasilkan suara yang berbeda dari biasanya. Gejala lain yang mungkin menyertai meliputi batuk, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, dan demam.
4. Asam lambung naik (GERD)
Penyakit refluks gastroesofageal atau gastroesophageal reflux disease (GERD) juga dapat menjadi penyebab suara serak hingga hilang.
Kondisi ini terjadi ketika asam lambung naik kembali menuju kerongkongan. Pada sebagian orang, cairan asam tersebut dapat mencapai tenggorokan dan mengiritasi area laring serta pita suara.
Keluhan biasanya disertai sensasi panas di dada, rasa asam di mulut, sering berdeham, batuk, dan suara serak, terutama pada pagi hari. Namun, refluks yang mencapai tenggorokan juga dapat terjadi tanpa disertai gejala nyeri ulu hati.
5. Alergi dan paparan asap
Alergi terhadap debu, serbuk sari, dan zat tertentu dapat memicu iritasi pada saluran pernapasan.
Produksi lendir berlebihan akibat alergi juga dapat membuat seseorang sering berdeham atau batuk. Kebiasaan tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan pada pita suara. Selain itu, paparan asap rokok, polusi udara, dan bahan kimia tertentu dapat mengiritasi jaringan tenggorokan sehingga memengaruhi kualitas suara.
6. Benjolan pada pita suara
Penggunaan suara secara berlebihan dalam jangka panjang dapat memicu terbentuknya nodul, polip, atau kista pada pita suara. Nodul biasanya terbentuk akibat tekanan dan gesekan berulang ketika seseorang berbicara atau bernyanyi terlalu keras.
Gangguan tersebut dapat menyebabkan suara menjadi serak, kasar, mudah lelah, dan sulit mencapai nada tertentu. Penanganannya bergantung pada jenis dan tingkat keparahan gangguan. Dokter dapat merekomendasikan terapi suara atau tindakan medis apabila diperlukan.
Cara mencegah suara hilang
Menjaga kesehatan pita suara merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko suara serak maupun kehilangan suara. Kebiasaan sederhana sehari-hari dapat membantu mempertahankan fungsi pita suara.
Berikut beberapa cara yang bisa diterapkan:
1. Memenuhi kebutuhan cairan tubuh
Minum air putih yang cukup membantu menjaga kelembapan jaringan tubuh, termasuk saluran pernapasan. Pita suara membutuhkan kondisi yang baik agar dapat bergetar secara optimal ketika seseorang berbicara.
Oleh karena itu, biasakan minum air secara teratur, terutama ketika banyak berbicara, beraktivitas fisik, atau berada di lingkungan dengan udara kering.
2. Menghindari berteriak dan berbicara terlalu keras
Hindari memaksakan suara ketika berbicara, bernyanyi, atau menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Jika berada di lingkungan yang bising, sebaiknya gunakan mikrofon atau mendekat kepada lawan bicara daripada terus meningkatkan volume suara.
Kebiasaan ini dapat membantu mengurangi tekanan berlebihan pada pita suara.
3. Memberikan waktu istirahat pada suara
Pita suara juga membutuhkan waktu pemulihan, terutama setelah digunakan dalam aktivitas yang cukup berat. Jika pekerjaan mengharuskan seseorang berbicara dalam waktu lama, sisihkan waktu untuk beristirahat sejenak.
Ketika suara mulai terasa lelah atau serak, kurangi aktivitas berbicara dan hindari memaksakan suara. Perlu diketahui, berbisik bukan selalu pilihan yang lebih aman karena dapat memberikan ketegangan pada mekanisme pembentukan suara.
4. Menghindari Rokok dan Asap Rokok
Asap rokok mengandung berbagai zat iritan yang dapat mengganggu kesehatan saluran pernapasan dan pita suara. Kebiasaan merokok maupun paparan asap rokok dari lingkungan sekitar dapat meningkatkan risiko gangguan suara.
Karena itu, menghindari rokok dan asapnya menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kesehatan tenggorokan.
5. Menjaga pola makan dan mengontrol asam lambung
Bagi orang yang memiliki masalah asam lambung, menjaga pola makan dapat membantu mengurangi risiko iritasi pada tenggorokan. Hindari kebiasaan makan berlebihan, terutama menjelang tidur. Berikan jeda sekitar dua hingga tiga jam antara waktu makan dan berbaring.
Selain itu, perhatikan makanan atau minuman yang dapat memicu gejala refluks pada masing-masing orang.
6. Menjaga kebersihan dan kelembapan udara
Udara yang terlalu kering dapat membuat tenggorokan terasa tidak nyaman. Penggunaan alat pelembap udara atau humidifier dapat membantu menjaga kelembapan ruangan, terutama ketika berada di lingkungan berpendingin udara dalam waktu lama.
Jangan lupa mencuci tangan secara teratur untuk mengurangi risiko tertular infeksi saluran pernapasan yang dapat memengaruhi suara.
Kapan suara hilang harus diperiksakan ke dokter?
Suara hilang akibat laringitis ringan umumnya dapat membaik dalam satu hingga dua minggu. Namun, keluhan yang berlangsung lama atau disertai gejala tertentu tidak boleh diabaikan.
Pemeriksaan medis diperlukan apabila suara serak tidak membaik setelah tiga minggu, terutama jika tidak didahului flu atau infeksi saluran pernapasan.
Selain itu, segera konsultasikan kondisi kesehatan apabila mengalami beberapa tanda berikut:
1. Suara hilang sepenuhnya selama lebih dari beberapa hari.
2. Mengalami kesulitan bernapas atau menelan.
3. Merasakan nyeri ketika berbicara atau menelan.
4. Mengalami batuk berdarah.
5. Muncul benjolan di sekitar leher.
6. Suara sering serak atau hilang secara berulang tanpa penyebab yang jelas.
Jika mengalami kesulitan bernapas, segera cari pertolongan medis darurat.
Dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) dapat melakukan pemeriksaan untuk mengetahui kondisi pita suara dan menentukan penyebab gangguan tersebut.
Pada beberapa kasus, pemeriksaan menggunakan alat khusus berupa endoskop diperlukan untuk melihat kondisi laring secara langsung.
Suara hilang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari radang pita suara, infeksi saluran pernapasan, penggunaan suara berlebihan, alergi, hingga gangguan asam lambung.
Untuk mencegahnya, penting menjaga asupan cairan, menghindari kebiasaan berteriak, memberikan waktu istirahat pada suara, serta menjauhi asap rokok. Apabila suara serak atau hilang berlangsung lebih dari tiga minggu maupun disertai gejala yang mengkhawatirkan, sebaiknya segera melakukan pemeriksaan medis agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani dengan tepat.