Badung, Bali (ANTARA) - Indonesia menargetkan penyediaan 10.600 unit alat diagnostik molekuler untuk mendeteksi tuberkulosis (TBC) pada 2027 sebagai bagian dari percepatan penemuan kasus dan penanggulangan penyakit tersebut.
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin dalam forum The 40th Stop TB Partnership Board Meeting 2026 di Sunset Road, Kabupaten Badung, Bali, Kamis, mengatakan pemerintah telah memulai penerapan program skrining TBC baru pada 2026.
Saat ini, kata dia, sekitar 4.000 unit alat diagnostik molekuler near point of care (NPOC) telah disiapkan dan jumlahnya akan ditingkatkan menjadi 10.600 unit.
"Menjelang akhir tahun 2026, kita akan memiliki sekitar 4.000 perangkat diagnostik molekuler near point of care, yang jumlahnya akan ditingkatkan menjadi 10.600 unit. Perangkat ini akan didistribusikan ke puskesmas-puskesmas yang tersebar di 7.000 pulau untuk melayani 290 juta penduduk Indonesia," kata Budi Gunadi.
Alat tersebut direncanakan didistribusikan ke fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama, termasuk puskesmas, untuk menjangkau masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.
Menurut Budi, penguatan fasilitas pemeriksaan diperlukan untuk memperluas akses diagnosis TBC bagi sekitar 290 juta penduduk Indonesia yang tersebar di wilayah kepulauan.
Pemerintah juga berupaya menekan biaya pemeriksaan molekuler. Dengan dukungan Global Fund, biaya pemeriksaan saat ini telah turun menjadi 3,6 dolar AS per tes. Pemerintah berharap biaya tersebut dapat ditekan hingga di bawah 3 dolar AS mulai 2027.
Selain alat diagnostik molekuler, pemerintah juga memperluas penggunaan mesin rontgen untuk mendukung skrining TBC. Sebanyak 800 unit mesin rontgen portabel dan bergerak telah dipasang pada 2026.
Pada tahun berikutnya, pemerintah berencana menambah 4.000 unit mesin rontgen.
Selanjutnya, pada 2028, ditargetkan sebanyak 10.000 puskesmas telah dilengkapi fasilitas rontgen dengan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
"Tahun ini, kita telah memasang 800 unit mesin sinar-X, baik yang bersifat portabel maupun mobile. Tahun depan, kita akan menambah 4.000 unit lagi, sehingga pada tahun 2028, seluruh puskesmas, yang berjumlah 10.000 unit, akan dilengkapi dengan mesin sinar-X berteknologi kecerdasan buatan (AI) untuk melakukan skrining tuberkulosis di 7.000 pulau berpenghuni tersebut," kata Budi Gunadi.
Budi berharap kombinasi pemeriksaan rontgen berbasis AI dan diagnostik molekuler dapat meningkatkan penemuan kasus TBC secara signifikan.
Ia menargetkan kapasitas skrining dapat menjangkau sekitar 10 kali estimasi beban TBC Indonesia atau sekitar 10 juta orang melalui fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama.
Upaya tersebut diharapkan meningkatkan penemuan pasien TBC, baik yang mengalami TBC aktif maupun kelompok yang memerlukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.
Menurut Budi, perluasan skrining menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan penderita TBC dapat ditemukan dan memperoleh pengobatan lebih cepat.
"Kami berharap dapat melakukan skrining terhadap sekitar 10 juta orang—jumlah yang setara dengan 10 kali lipat estimasi beban kasus TBC di Indonesia—menggunakan mesin sinar-X dan diagnostik molekuler di tingkat puskesmas. Saya berharap upaya ini akan meningkatkan angka penemuan kasus TBC, baik untuk TBC aktif maupun TBC non-klinis," katanya.