Nasional

Film Desember Jani Jadi Refleksi Luka Tiga Generasi yang Mau Belajar Mencoba

Film Desember Jani Jadi Refleksi Luka Tiga Generasi yang Mau Belajar Mencoba

JAKARTA — Perjalanan sebuah keluarga tidak pernah benar-benar sederhana. Di balik pintu rumah yang tertutup, sering kali tersisa ruang sunyi yang menyimpan tanya, luka kecil yang dibiarkan mengering sendiri, serta percakapan-percakapan tertunda yang kerap luput dari pelukan.

Potret inilah yang menyeruak ketika Palari Films secara resmi merilis trailer dan poster film terbaru mereka, Desember Jani. Kisah yang mengangkat dinamika keluarga ini hadir membawa angin segar sekaligus cermin bagi keseharian kita. Terlebih, film panjang garapan sutradara Ariani Darmawan ini baru saja menorehkan prestasi melenggang ke kancah internasional lewat ajang Tokyo International Film Festival (TIFF) ke-39 dalam kompetisi Asian Future, serta sukses membawa pulang penghargaan Special Mention.

Dalam trailer resminya, Desember Jani memotret perempuan dari tiga generasi yang bernaung di bawah satu atap yang sama. Mereka adalah Oma yang hangat diperankan oleh Tutie Kirana, Winnie si ibu tunggal yang dimainkan secara emosional oleh Sigi Wimala, serta dua anak perempuannya yakni Julia yang diperankan oleh Hyori Mika dan si bungsu Jani yang dibawakan dengan penuh penghayatan oleh Chempa Puteri.

Suasana rumah langsung terasa kontras ketika Julia pergi meninggalkan rumah tanpa pamit, memaksa Jani menyimpan rahasia besar dan memilih antara tetap bungkam demi sang kakak atau bersuara kepada ibunya. Bagi aktris muda Chempa Puteri, momen peluncuran trailer tersebut menjadi sebuah titik emosional yang mendalam dalam perjalanan hidupnya.

Membintangi peran utama pertamanya di layar lebar menghadirkan gelombang perasaan yang luar biasa. Saat menyaksikan cuplikan adegan demi adegan yang bergulir di hadapannya, ada rasa haru yang tak mampu ia bendung lagi.

"Mencapai titik ini, itu benar-benar sebuah mimpi aku yang terwujud,” ujarnya di Jakarta pada Kamis (5/11/2026).

Perjalanan Chempa di dunia akting telah dimulai sejak ia berusia lima tahun. Berkat dukungan penuh dari ayah dan ibunya yang selalu menguatkan di setiap langkah, ia mampu melewati berbagai tantangan hingga akhirnya berdiri di titik pencapaian tertingginya saat ini.

Di sisi lain, Desember Jani juga menjadi penanda kembalinya Sigi Wimala ke layar lebar setelah sekian lama vakum. Memerankan Winnie, seorang ibu tunggal yang harus menjadi tulang punggung keluarga sekaligus menanggung rasa bersalah atas kepergian anak sulungnya, Sigi mengaku banyak belajar dari karakter tersebut. Menurutnya, konflik dalam keluarga sering kali bermula dari komunikasi yang keliru akibat kelelahan fisik sehari-hari.

"Sebagai orang tua tunggal, Winnie harus jadi segalanya di rumah. Pulang kerja sudah capek, dan capek itu sering keluar dalam bentuk marah. Bukan karena tidak peduli. Yang sebenarnya ingin dia bilang cuma, 'Ibu khawatir sama kamu,'" kata Sigi. Dia berpesan agar para orang tua di luar sana bisa lebih berdamai dengan diri sendiri, mengingat lelah adalah hal yang manusiawi dan kesalahan dalam berbicara adalah bagian dari proses belajar.

Di kursi sutradara, Ariani Darmawan meramu kisah ini dari sudut pandang yang sangat reflektif. Sebagai seorang seniman visual yang sebelumnya kerap menggarap film pendek dan dokumenter, film panjang pertamanya ini terasa begitu personal.

"Dari luar, mungkin kita akan melihat bahwa ini cerita tentang keluarga tiga generasi. Ada satu anaknya yang pergi dari rumah dan bagaimana mereka menunggu sang anak pulang. Sambil menunggu, kemudian mereka saling terkoneksi satu sama lain. Tapi lebih dari itu, saya pikir Desember Jani juga tentang perasaan-perasaan terdalam mereka. Semua orang pasti punya lukanya masing-masing.Bahkan yang paling kecil pun juga sudah memiliki lukanya sendiri," ujar Ariani.

Naskah film ini ditulis oleh Ariani bersama Cyntha Hariadi, seorang penyair dan novelis yang menyuntikkan nyawa dan dimensi mendalam pada setiap karakternya. Kolaborasi kreatif ini turut diperkuat oleh produser Meiske Taurisia serta produser eksekutif Luna Maya, yang mengawal lahirnya film kesebelas dari Palari Films ini.

Meiske mengatakan Desember Jani bukan sekadar potret keluarga yang sempurna, melainkan sebuah representasi jujur tentang keluarga yang senantiasa mau mencoba memperbaiki diri. Menyambut penayangan perdananya di penghujung tahun, Palari Films juga menggelar berbagai kegiatan interaktif, salah satunya kompetisi film pendek bertema Stories of Her bekerja sama dengan CapCut bagi para kreator perempuan berusia 18 tahun ke atas dengan karya berdurasi 3 hingga 5 menit.

Dengan tema Stories of Her, para kreator perempuan diharapkan bisa mengangkat pengalaman dan perspektif perempuan dalam keluarga, termasuk hubungan ibu-anak, saudara, dan lintas generasi. Para peserta juga akan memperoleh pembekalan materi dari produser film Desember Jani, Meiske Taurisia, serta sutradara Mouly Surya, dan panduan teknis dari CapCut. Periode kompetisi ini berlangsung pada 26 Oktober-22 November 2026, dan pengumuman pemenang akan berlangsung pada 25 November 2026.

Tak hanya 

kompetisi film pendek, CapCut juga merilis templat khusus Desember Jani mulai 5 November 2026, bersamaan dengan rilisnya trailer dan poster film. Pengguna CapCut nantinya dapat memasukkan foto atau video pribadi untuk membuat konten dengan identitas visual Desember Jani, mulai dari aset resmi film seperti title treatment, elemen visual, stiker, potongan dialog, dan OST lagu Kopi Kaleng versi Jani & Julia.

Kehadiran template khusus beridentitas visual Desember Jani di aplikasi CapCut juga diharapkan mampu mendekatkan film ini kepada para penonton mudanya. Melalui alunan lagu “Kopi Kaleng” yang dinyanyikan ulang oleh Chempa dan Hyori, film ini mengajak kita untuk kembali duduk bersama,merajut kembali percakapan yang sempat tertunda. Film Desember Jani dijadwalkan tayang mulai 10 Desember 2026.