Nasional

Dilan dan Milea: Film Horor yang Hantunya Tidak Pernah Benar-Benar Pergi

Dilan dan Milea: Film Horor yang Hantunya Tidak Pernah Benar-Benar Pergi
cinta ayu Dilan dan Milea: Film Horor yang Hantunya Tidak Pernah Benar-Benar Pergi Info Terkini | 2026-11-06 09:07:01

Ada banyak genre film di dunia ini. Mulai dari romantis, komedi, aksi, sampai horor yang membuat penonton menutup mata sambil tetap mengintip. Namun, ada satu film yang nasibnya cukup unik. Secara resmi bergenre romantis, tetapi oleh sebagian penontonnya justru dianggap sebagai film horor. Siapa lagi kalau bukan Dilan 1990 dan kisah cintanya bersama Milea.

Aneh memang. Tidak ada pocong melompat dari belakang pohon, kuntilanak tertawa di tengah malam, apalagi suara pintu berderit sendiri. Isinya hanya anak SMA yang naik motor, mengirim pesan romantis, dan melontarkan rayuan yang kadang membuat orang tersenyum, kadang membuat orang ingin mengubur wajah ke bantal karena malu sendiri.

Lantas, mengapa Dilan dan Milea bisa disebut film horor?

Jawabannya sederhana: karena yang menghantui bukan hantunya, melainkan kenangannya.
Film yang pertama kali tayang pada 2018 ini sudah lama menyelesaikan kisahnya. Namun, nama Dilan dan Milea masih sering muncul dalam percakapan, meme, bahkan bahan bercandaan di media sosial. Seolah-olah keduanya tidak pernah benar-benar pensiun dari dunia perfilman. Dilan mungkin sudah tidak mengendarai motornya, tetapi kalimat-kalimatnya masih berkeliling di kepala penonton.

Bahkan, ada orang yang sudah lupa nama teman sekelasnya waktu SMA, tetapi masih hafal bagaimana Dilan merayu Milea. Ini bukan sekadar daya ingat yang bagus. Ini sudah masuk kategori penyimpanan memori dengan kapasitas khusus untuk urusan percintaan orang lain.
Lucunya, film ini juga seperti memiliki kekuatan untuk membuat penonton membandingkan kehidupan nyata dengan kehidupan fiksi. Dilan bisa membuat Milea merasa istimewa hanya dengan kalimat sederhana. Sementara sebagian orang di dunia nyata harus mengirim pesan tiga kali hanya untuk mendapatkan balasan, "Oh, iya."

Dilan bilang akan datang ke Milea, sedangkan kita masih menunggu seseorang yang katanya OTW sejak dua jam lalu. Rupanya, ujian kesabaran bukan hanya datang dari dosen yang belum mengumumkan nilai, tetapi juga dari manusia yang tidak memahami arti perjalanan waktu.
Namun, di balik semua candaan tersebut, ada hal menarik yang sebenarnya jarang disadari. Mengapa sebuah film yang sudah bertahun-tahun berlalu masih begitu mudah diingat?

Salah satu jawabannya adalah nostalgia. Nostalgia merupakan perasaan rindu terhadap pengalaman atau masa lalu yang pernah memberikan kesan emosional. Sesuatu yang berkaitan dengan masa remaja, cinta pertama, persahabatan, atau pengalaman sekolah biasanya lebih mudah membekas karena memiliki hubungan dengan perasaan seseorang.

Dilan dan Milea bukan sekadar menceritakan dua tokoh yang saling jatuh cinta. Film ini juga membawa penonton kembali pada suasana masa SMA: seragam putih abu-abu, surat cinta, teman sebangku, hingga rasa gugup ketika berpapasan dengan seseorang yang disukai.

Tidak semua penonton pernah mengalami kisah cinta seperti Dilan dan Milea. Namun, banyak yang mungkin pernah merasakan suasana yang serupa. Itulah yang membuat ceritanya terasa dekat, bahkan bagi mereka yang kisah cintanya lebih sering berakhir dengan status last seen recently.
Ada pelajaran kecil yang bisa diambil: manusia tidak selalu mengingat sesuatu karena peristiwanya luar biasa, tetapi karena peristiwa tersebut pernah membuatnya merasakan sesuatu.

Jadi, tidak heran jika Dilan dan Milea masih dikenang sampai sekarang. Filmnya memang sudah selesai, tetapi kenangan yang ditinggalkan penontonnya belum tentu ikut tamat.

Mungkin inilah alasan mengapa Dilan dan Milea pantas disebut film horor. Sebab, berbeda dengan hantu yang hanya muncul pada malam tertentu, kenangan bisa datang kapan saja. Saat mendengar lagu lama, melihat seragam SMA, atau sekadar menemukan unggahan tentang cinta pertama.
Dan yang paling menyeramkan, kita tidak perlu membeli tiket bioskop untuk mengalaminya. Cukup duduk diam, membuka media sosial, lalu tiba-tiba teringat seseorang yang bahkan sekarang sudah tidak tahu kabarnya.

Dilan dan Milea memang sudah selesai. Namun, bagi sebagian orang, horornya baru dimulai ketika kenangan ikut diputar ulang.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di