JAKARTA -- Mengatakan "tidak" kepada orang lain terkadang bukan perkara mudah. Ada perasaan tidak enak, takut mengecewakan, hingga khawatir dianggap tidak peduli.
Akibatnya, seseorang memilih mengiyakan permintaan orang lain meskipun sebenarnya tidak ingin atau sedang tidak mampu memenuhinya. Kebiasaan tersebut dikenal sebagai people pleasing. Persoalan ini menjadi salah satu hal yang diangkat dalam film People Pleaser.
Saat media visit ke Republika di Jakarta, Jumat (6/11/2026), para pemain film People Pleaser di antaranya Vonny Cornellya, Amel Carla, Fatih Unru, Fira Maringka, dan Femi Maringka berbagi pengalaman dan pandangan mereka mengenai kebiasaan menyenangkan orang lain, termasuk alasan seseorang kerap kesulitan menolak permintaan. Fatih Unru melihat kebiasaan tersebut tidak terlepas dari pola yang terbentuk sejak kecil. Menurutnya, seseorang sering kali dibiasakan untuk selalu bersikap baik dan menyenangkan kepada orang lain, ia mencontohkan sikap kepada teman orang tua yang mungkin saat kecil pun tidak dikenali. Bahkan penolakan bisa dianggap sebagai tindakan yang tidak sopan atau menunjukkan sikap buruk.
“Kayaknya tuh, kita dari kecil tidak terbiasa untuk dapat penolakan. Jadi pada saat kita sudah tumbuh gede, kita rasanya selalu harus menjadi orang baik dengan cara comply dengan sosial kita,” kata Fatih.
Dia juga menyoroti bagaimana sikap ramah dan santun terkadang disalahartikan sebagai kewajiban untuk selalu mengikuti keinginan orang lain. Padahal menurut Fatih, bersikap sopan tidak berarti seseorang harus terus-menerus mengesampingkan dirinya sendiri. “Ya, kalau menurut gua sendiri sih, santun atau sopan bukan berarti merendahkan diri untuk ngangkat orang lain sih,” ujarnya.
Pandangan serupa juga disampaikan Vonny Cornellya. Dia mengaku kini lebih mempertimbangkan siapa yang meminta bantuan dan seberapa penting pertolongan tersebut bagi orang yang bersangkutan. Menurut Vonny, kedekatan dengan seseorang juga menjadi pertimbangan. Dia cenderung mendahulukan orang-orang yang benar-benar dikenal dan diketahui membutuhkan bantuan. “Kalau dari aku sih, lihat siapa yang minta tolong, gitu. Dan seberapa urgen, seberapa penting pertolongan kita itu untuk orang tersebut,” kata Vonny.
Ia juga mengungkapkan dirinya dahulu terbiasa berusaha menyenangkan semua orang dan merasa perlu selalu memenuhi keinginan orang lain agar tidak mengecewakan mereka. Namun, seiring waktu dia mulai menyadari bahwa usaha tersebut terkadang membuat kebutuhan dirinya sendiri terabaikan.
Dia pun mulai belajar memilah permintaan mana yang bisa dipenuhi dan mana yang sebaiknya ditolak. Sebab, menurutnya tidak semua usaha yang diberikan kepada orang lain selalu mendapatkan penghargaan sebagaimana yang diharapkan. “Jadi pada akhirnya ya memilah-milahlah. Mana yang kita bilang iya, mana yang kita bilang tidak,” ujar Vonny.