kini tak hanya digunakan untuk kebutuhan fotografi maupun pembuatan , tetapi juga dimanfaatkan dalam berbagai sektor industri, mulai dari pertambangan, perkebunan, hingga penanggulangan bencana.
Teknologi pesawat tanpa awak ini dapat digunakan untuk memetakan wilayah, memeriksa kondisi infrastruktur, hingga memantau keamanan tanpa harus mengerahkan petugas secara langsung ke seluruh lokasi.
Managing Director Halo Robotics Johannes Soekidi mengatakan perkembangan teknologi memungkinkan sejumlah pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan beberapa drone berbeda kini dilakukan menggunakan satu perangkat.
"Perusahaan tambang, perkebunan, atau perusahaan listrik kini dapat membeli satu drone DJI dan menggunakannya untuk survei dan pemetaan di pagi hari, inspeksi aset di sore hari, dan patroli keamanan di malam hari," kata Johannes dalam keterangannya, Jumat (6/11).
"Sebelumnya, pekerjaan tersebut membutuhkan dua atau tiga drone yang berbeda," tambahnya.
Menurut Johannes, kemampuan tersebut berpotensi mengurangi kebutuhan investasi perangkat sekaligus meningkatkan efisiensi operasional, terutama bagi perusahaan yang memiliki wilayah kerja luas.
Salah satu penerapan teknologi tersebut hadir melalui DJI Matrice 5T yang diluncurkan Halo Robotics bersama DJI Enterprise di Indonesia.
Drone ini menggabungkan kamera pemetaan beresolusi 50MP dan kamera thermal beresolusi 1280×1024 dalam satu perangkat.
Kamera thermal memungkinkan drone mendeteksi perbedaan suhu pada objek, sedangkan kamera pemetaan digunakan untuk mengumpulkan informasi visual dari suatu wilayah.
Perangkat tersebut juga dibekali sistem penentuan posisi Real-Time Kinematic (RTK) dengan akurasi hingga tingkat sentimeter, sensor LiDAR, radar millimeter-wave (mmWave), serta sistem penglihatan omnidirectional.
Fitur lainnya mencakup kamera night vision, zoom hybrid hingga 176 kali, dan laser range finder yang mampu mengukur jarak objek hingga tiga kilometer.
Bisa dipakai untuk apa saja?
Di sektor pertambangan, drone dapat membantu memetakan area tambang, menghitung volume material, hingga memantau perkembangan kegiatan operasional.
Kombinasi kamera thermal dan kemampuan zoom juga dapat dimanfaatkan untuk memeriksa kondisi peralatan tambang seperti conveyor dan crusher.
Sementara itu, pada sektor perkebunan dan kehutanan, drone dapat digunakan untuk memantau batas lahan, kondisi infrastruktur, serta menemukan titik panas yang berpotensi memicu kebakaran.
Teknologi thermal juga berguna dalam industri ketenagalistrikan untuk mengidentifikasi peningkatan suhu pada peralatan seperti transformator, konektor, dan isolator jaringan listrik.
Pemantauan tersebut dapat membantu petugas mengenali indikasi masalah pada infrastruktur tanpa harus selalu melakukan pemeriksaan dari jarak dekat.
Selain itu, drone juga dapat dimanfaatkan dalam kegiatan konstruksi serta industri minyak dan gas.
Dalam penanggulangan bencana, kombinasi kamera thermal dan night vision dapat membantu tim pencarian dan penyelamatan menemukan korban pada malam hari atau ketika jarak pandang terbatas.
Vice President of Sales & Marketing DJI Christina Zhang mengatakan pengembangan drone seri Matrice diarahkan untuk mengintegrasikan lebih banyak sensor dan kemampuan komputasi dalam satu perangkat.
DJI Matrice 5T turut dilengkapi kemampuan kecerdasan buatan (AI) dengan model bawaan yang dapat mendeteksi lebih dari 20 jenis target.
Sistem AI tersebut juga memungkinkan pengembangan menggunakan algoritma pihak ketiga untuk menyesuaikan kebutuhan operasional.
Dari sisi daya tahan, drone ini memiliki waktu terbang maksimum hingga 59 menit dan ketahanan terhadap angin dengan kecepatan hingga 12 meter per detik.
Perangkat tersebut mengantongi sertifikasi IP55 untuk perlindungan terhadap debu dan semburan air, serta dapat dioperasikan pada rentang suhu minus 20 hingga 50 derajat Celsius.
Untuk mendukung pengelolaan operasi dan pengolahan data penerbangan, DJI Matrice 5T juga dapat diintegrasikan dengan platform DJI FlightHub 2 dan perangkat lunak pemetaan DJI Terra.
(lom)