REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – Makna kepahlawanan di era modern tidak lagi identik dengan perjuangan fisik di medan perang. Kini, sosok pahlawan dapat hadir melalui tindakan sederhana yang membawa manfaat bagi orang lain, seperti membagikan pengetahuan, membuka kesempatan, hingga menghasilkan karya berdampak bagi lingkungan sekitar.
Pandangan ini mengemuka dalam perbincangan ANTARA bersama sutradara sekaligus aktor Bene Dion Rajagukguk, ko-sutradara Kristo Immanuel, serta aktris dan penyanyi Vanessa Simorangkir di Jakarta, Kamis. Ketiganya memiliki sudut pandang berbeda, namun bertemu pada satu benang merah: keberanian mengambil peran, memberi ruang bagi orang lain, dan mewujudkan gagasan melalui tindakan nyata.
Bagi Bene Dion, pahlawan masa kini adalah mereka yang mampu menghidupkan kehidupan, baik bagi diri sendiri maupun orang-orang di sekitarnya. Kepahlawanan tidak harus diwujudkan melalui tindakan besar yang mendapat pengakuan publik. Seseorang dapat menjadi pahlawan ketika mampu memberikan manfaat melalui pengetahuan, keterampilan, dan karya yang dimiliki.
Ia mendorong generasi muda untuk tidak berhenti menjadi penonton terhadap berbagai persoalan di lingkungan mereka. Anak muda dapat mengambil peran dalam beragam bidang, mulai dari pelestarian lingkungan, inovasi teknologi, pemberdayaan penyandang disabilitas, ekonomi kewirausahaan, hingga penguatan seni dan budaya. Bene juga menekankan pentingnya literasi sebagai bekal membangun kemandirian, di mana pengetahuan tidak hanya menjadi modal pribadi, tetapi juga sumber daya untuk membantu orang lain berkembang.
Ernest Prakasa: Sosok Pahlawan yang Membuka Jalan
Menariknya, ketika diminta menyebut satu sosok yang paling mencerminkan arti kepahlawanan dalam perjalanan pribadinya, Bene justru menunjuk produser film Ernest Prakasa. Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Bene mengingat peran Ernest yang memberinya kesempatan memasuki industri perfilman nasional dan mempercayakan tanggung jawab besar sebagai sutradara film panjang.
Pada 2019, Bene dipercaya menyutradarai film panjang pertamanya, Ghost Writer, sebuah film horor komedi yang diproduseri Ernest. Kesempatan itu menjadi batu loncatan bagi Bene untuk membangun karier sebagai sutradara profesional. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa dukungan tidak selalu berbentuk bantuan materi. Memberikan kesempatan, mempercayakan tanggung jawab, dan menyediakan ruang untuk berkembang juga merupakan bentuk kontribusi yang dapat mengubah perjalanan seseorang.
Perjalanan karier Bene berlanjut. Pada 2022, ia menyutradarai sekaligus menulis Ngeri-Ngeri Sedap, film drama komedi keluarga yang mengangkat persoalan relasi orang tua dan anak dalam lingkungan keluarga Batak. Film tersebut terpilih sebagai wakil Indonesia untuk didaftarkan dalam ajang Academy Awards ke-95 pada kategori Film Fitur Internasional Terbaik. Meski tidak masuk nominasi akhir, pencapaian tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan film Indonesia di kancah internasional.
Kontribusi Bene di industri perfilman juga semakin dikenal melalui keterlibatannya dalam kelompok komedi bersama Boris Bokir, Indra Jegel, dan Oki Rengga yang hadir di layar lebar melalui film Agak Laen (2024). Film garapan sutradara Muhadkly Acho tersebut mencatat sekitar 9,12 juta penonton. Kesuksesan itu berlanjut melalui sekuel Agak Laen: Menyala Pantiku! (2025), yang berhasil meraih 11.000.866 penonton setelah 132 hari penayangan di bioskop.
Sosok Pahlawan di Mata Rekan
Pandangan Bene mengenai kepahlawanan mendapat respons dari Kristo Immanuel. Ko-sutradara film Pulang Kampung tersebut justru menyebut Bene sebagai sosok pahlawan masa kini dalam perjalanan kreatifnya. Menurut Kristo, film musikal Batak itu tidak akan terwujud tanpa keberanian dan inisiatif Bene untuk mendorong proyek tersebut.
Bagi Kristo, pahlawan modern adalah orang-orang yang bersedia mengambil risiko untuk memperjuangkan persoalan penting di ruang publik. Kepahlawanan tidak cukup diwujudkan melalui keberanian menyampaikan pendapat, tetapi perlu disertai kesediaan untuk terlibat dan melakukan sesuatu secara langsung. Ia menilai generasi muda memiliki ruang yang semakin luas untuk menyuarakan berbagai persoalan melalui platform digital, namun keberanian berbicara perlu diarahkan pada isu-isu substantif yang membawa manfaat bagi masyarakat.
Sementara itu, Vanessa Simorangkir melihat kepahlawanan dari sisi kebebasan berekspresi dan kesempatan berkarya. Ia memandang ruang berekspresi yang terbuka sebagai bagian penting dari upaya generasi muda untuk mengembangkan potensi serta menghasilkan karya orisinal. Vanessa juga menilai keteladanan figur senior yang bersedia membuka jalan bagi talenta baru dapat menumbuhkan kepercayaan diri generasi berikutnya.
Kolaborasi lintas generasi tersebut tercermin dalam produksi Pulang Kampung. Film yang diproduksi Imajinari bersama Jagartha dan Trinity Entertainment itu menggabungkan pendekatan sinema dengan kekayaan musik Batak melalui aransemen komposer Viky Sianipar. Film ini dijadwalkan tayang di jaringan bioskop Indonesia mulai 26 November 2026, dan juga akan hadir melalui album lagu tema orisinal yang memuat sembilan lagu bernuansa Batak.
Dari pengalaman Bene, Kristo, hingga pandangan Vanessa, bentuk kepahlawanan di bidang perfilman seringkali muncul melalui tindakan-tindakan sederhana yang saling terhubung. Pahlawan tidak selalu harus berdiri di medan perang atau dikenang melalui penghargaan. Mereka juga dapat hadir sebagai orang yang memberikan kesempatan, membagikan pengetahuan, menjaga kebudayaan, dan mendorong orang lain agar berani mengembangkan potensi. Makna kepahlawanan masa kini bukan semata-mata tentang seberapa besar seseorang dikenal, melainkan seberapa jauh kehadirannya memberi kehidupan bagi orang lain.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.